ALAMAT :

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekretariat : Gedung Balaikota DKI Jakarta, Blok F Lantai 3, Jl.Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat. Telp/Fax (021) 352.1623, HP.0812 8163 3337, 0856 4540 8945, E-mail : antonagusta@gmail.com
, c/p : Anton
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Senin, 23 Maret 2015

Deklarasi Sendai : Hasil Konferensi Dunia PBB Ketiga tentang Pengurangan Risiko Bencana


  1. Kami para Kepala negara dan Pemerintahan, Menteri dan Delegasi yang berpartisipasi dalam Konfrensi Dunia PBB Ketiga tentang Pengurangan Risiko Bencana, telah dikumpulkan dari tanggal 14 - 18 Maret 2015 di Kota Sendai Miyagi Prefektur di Jepang, yang telah menunjukan pemulihan hidup dari Gempa Besar jepang Timur pada Maret 2011. Menyadari dampak meningkatnya bencana dan kompleksitas mereka di berbagai belahan dunia, kami menyatakan tekad kami untuk meningkatkan upaya memperkuat pengurangan risiko bencana untuk mengurangi kerugian bencana, kehidupan dan aset di seluruh dunia.
  2. Kami menghargai peran penting yang dimainkan oleh Kerangka Aksi Hyogo 2005 - 2015 : Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana selama sepuluh tahun terakhir. Setelah menyelesaikan penilaian dan review dan dianggap sebagai pengalaman yang diperoleh di bawah pelaksanaanya, dengan ini kami lanjutkan dengan Kerangka Sendai Pengurangan Risiko Bencana 2015 - 2030. Kami sangat berkomitmen untuk pelaksanaan kerangka baru ini sebagai petunjuk untuk meningkatkan upaya pengurangan risiko bencana di masa depan.
  3. Kami meminta semua pihak untuk bertindak bersama-sama menyadari bahwa realisasi kerangka baru tergantung pada upaya tak henti-hentinya dan tak kenal lelah kita bersama untuk membuat dunia lebih aman dari risiko bencana dalam beberapa dekade ke depan untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang.
  4. Kami berterima kasih kepada orang-orang dan Pemerintah Jepang serta Kota Sendia atas kesediaanya menjadi tuan rumah Konfrensi Dunia PBB Ketiga tentang Pengurangan Risiko Bencana dan menyampaikan penghargaan kepada Jepang atas komitmennya untuk memajukan pengurangan risiko bencana dalam agenda pembangunan global.

Sendai, Jepang 2015


(ratman/prbapidki/2015)

Minggu, 15 Maret 2015

KOMUNIKE MASYARAKAT SIPIL INDONESIA MENGENAI KONFERENSI DUNIA TENTANG PENGURANGAN RISIKO BENCANA KETIGA

SENDAI, MARET 2015

Platform nasional bekerjasama dengan AADMER, menjelang pertemuan World Conference DRR di  Sendai, 14 – 18 Maret 2015, mengumpulkan catatan penting, yang akan disampaikan di pertemuan tersebut. Pertemuan yang khusus membahas tentang peran dan suara CSO Indonesia ini, menghasilkan catatan kritis, di bawah ini  catatan tersebut yang tertuang dalam komunike bersama


1.  Kami, perwakilan organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia yang bergerak dalam berbagai aksi-aksi kemanusiaan, melalui komunike ini, bermaksud menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam rangka menyambut perhelatan akbar; 3rd World Conference on Disaster Risk Reduction yang akan diselenggarakan di kota Sendai, Miyagi Prefecture, Jepang pada 14-18 Maret 2015; yang kami serap dari berbagai pengalaman empiris bekerja bersama membangun ketangguhan masyarakat lokal dan yang berada di garis depan.

2.     Kami menyambut penyelenggaraan 3rd World Conference on Disaster Risk Reduction 2015 sebagai langkah maju dalam mewujudkan visi bersama, membangun “resilient people” sebagai prasyarat mutlak dalam menciptakan “resilient planet”. Konferensi kali ini bertepatan dengan peringatan empat tahun Gempa dan Tsunami Jepang Timur sebagai salah-satu wake-up call bagi masyarakat dunia untuk senantiasa bersiap dan bersiaga menghadapi ancaman yang maha dahsyat, yang tidak hanya menyebabkan kerusakan harta benda, melainkan juga mampu menghilangkan ratusan ribu jiwa, yang sekali-kali akan terjadi pada saat-saat yang tidak pernah terduga.

3.  Kami memandang, the 3rd World Conference on Disaster Risk Reduction 2015diselenggarakan bertepatan dengan berakhirnya era Millennium Development Goals 2000-2015danlahirnya kerangka global pembangunan berkelanjutan pasca 2015, maka konferensi yang diselenggarakan kali ini hendaknya melahirkan kontribusi-kontribusi yang positif terhadap penguatan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai fondasi tercapainya pengurangan risiko bencana dan pencegahan atas lahirnya risiko-risiko baru sebagai bentuk tanggungjawab kemanusiaan kita terhadap kepentingan dan martabat dari generasi yang akan datang.

4.       Kami mendesak, the 3rd World Conference on Disaster Risk Reduction 2015untuk turut memberikan jawaban konkret terhadap masalah pemanasan global dan berbagai dampaknya, dengan turut mendesak untuk adanya target pengurangan emisi gas rumah kaca yang ambisius serta mendorong adanya upaya terkoordinasi secara global terhadap peningkatan kapasitas masyarakat yang berada di negara-negara miskin, berkembang, dan kepulauan kecil guna meningkatkan dan mengembangkan kemampuan adaptasi dalam menghadapi berbagai implikasi akibat perubahan iklim.

5.   Kami juga mendesak the 3rd World Conference on Disaster Risk Reduction 2015 guna memberikan tekanan terhadap pentingnya melaksanakan kegiatan-kegiatan ekonomi yang lebih sensitif terhadap risiko dengan cara mendorong dihentikannya berbagai praktik-praktik buruk pengelolaan ekonomi berbasis sumberdaya alam yang tidak memperhatikan keseimbangan ekologis dan berpotensi melahirkan risiko-risiko baru di masa yang akan datang.

6.    The 3rd World Conference on Disaster Risk Reduction 2015 secara khusus ditujukan untuk melahirkan kerangka kerja pengurangan risiko bencana pasca 2015 sebagai pengganti piranti baru untuk mengelola capaian-capaian yang telah diraih selama periode Kerangka Aksi Hyogo 2005-2015 sekaligus mengantisipasi perkembangan ancaman-ancaman bencana dan masalah-masalah kemanusiaan pada aras yang sejalan dengan kerangka global mengenai tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan belajar dari pengalaman HFA 2005-2015, keberhasilan komitmen global dalam mewujudkan ketangguhan planet akan sangat bergantung terhadap prasyarat-prasyarat di bawah ini :

1) Dilaksanakannya prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, yakni kerangka pembangunan yang menekankan keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan serta yang menjamin hak generasi yang akan datang untuk menikmati segala jenis sumberdaya sebagaimana yang kita nikmati saat ini. Penegakkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan adalah prasyarat untuk adanya pengurangan secara signifikan faktor-faktor risiko mendasar, baik dari segi bahaya maupun kerentanan, khususnya terhadap risiko-risiko “invisible” sebagai akibat dari bencana-bencana skala-kecil yang berlangsung secara perlahan (slow onset), dan lebih banyak terjadi in urban setting.

2)    Adanya upaya yang sistematis dan terarah dalam rangka mengasah kemampuan masyarakat lokal dalam mengelola berbagai risiko-risiko bencana yang dihadapi berdasarkan kapasitas dan sumberdaya yang dimiliki. Investasi pada penguatan kapasitas, pelembagaan budaya keselamatan, dan kesiapsiagaan menuju respon yang efektif perlu ditingkatkan. Pemerintah dan berbagai stakeholder penanggulangan bencana tidak hanya ditantang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana-bencana yang pernah atau kerap terjadi, tetapi juga dituntut untuk mengasah kemampuan masyarakat dalam mengantisipasi munculnya risiko-risiko baru sebagai akibat dari berbagai bentuk kegagalan pembangunan, seperti ancaman akibat kegagalan teknologi.

3)      Disaster Risk Governance yang accountable.
4)      Kemitraan yang sejajar dan saling-menguntungkan dari berbagai stakeholder.

Jakarta, 9 Maret 2015

  1. Arif Nurkholis – MDMC
  2. Agus Budiarto - Karina
  3. Abdul Muhari –  KKP/Tohoku/Platform Nasional
  4. Asep Benny – Dompet Dhuafa
  5. Anton Agusta – Forum PRB DKI
  6. Andri Murdianto – Rumah Zakat
  7. Anastasia Maylinda - YEU
  8. Ari Nugroho –  Oxfam
  9. Charles Ham – Hope World Wide
  10. Adi Pamungkas – Pramuka Peduli
  11. Dwi Minarto – Perkumpulan Skala
  12. Elva – Politik.com
  13. Gunandar – Kerlip
  14. Heri – Perkumpulan Skala
  15. Ita Balanda – UNICEF
  16. Irina Rafliana – LIPI
  17. Lusiana Yayek – TNOL
  18. Miranti Husein
  19. Martina Estrely – Puskris Psi UI
  20. Nurul Fitry Azizah – Kerlip
  21. R.Y Hariandja – Media Indonesia
  22. Sofyan – Bingkai Indonesia
  23. Syamsul Ardiansyah – Dompet Dhuafa
  24. Surya Rahman – Humanitarian Forum Indonesia
  25. Susilo Budhi – Aksara
  26. Yanti – Kerlip
  27. Rini Dharsono – Perkumpulan Skala
  28. Syafiria – Perkumpulan Skala
  29. Galuh Ruspitawati – Perkumpulan Skala
  30. Victor Rembeth – DRP
  31. Trinirmalaningrum – Perkumpulan Skala
  32. Zam-Zam Muzaki – Kerlip
  33. Suryadi – Wahana Visi Indonesia
  34. Rahmawati Husein – MDMC
  35. Raditya Jati – BNPB
  36. Haryono Budi – Artha Graha Peduli
  37. Sugeng Tri Utomo – DRRI
  38. Puspa - APG
  39. Marlon Lukman – YTBI
  40.  
     
    (ratman/prbapidki)

Jakarta,Salah Satu Kota Besar di Dunia yang Terancam Akan Tenggelam

MENCAIRNYA - Es di kutub utara akibat pemanasan global makin lama makin memprihatinkan. Tiap tahunnya, permukaan air laut naik 1- 3 mm. Bila tidak segera diantisipasi, naiknya permukaan air laut tentu berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia yang tinggal di permukaan bumi. Yang lebih berbahayanya, beberapa kota besar di dunia ternyata terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, pondasi yang rapuh, maupun penyedotan air tanah.

Fenomena alam yang kian tak menentu sering dijadikan alasan berbagai pihak terkait untuk menjelaskan perihal banjir yang kian akrab dengan ibukota, Jakarta, mereka akan menyebut ‘banjir kiriman dari Bogor.’

Padahal kalau kita mau sedikit lebih jujur, banjir yang kerap melanda ibukota adalah dikarenakan oleh kesemrawutan tata kota yang dimiliki Jakarta. Dengan mudahnya gedung-gedung besar dapat berdiri tanpa memperhatikan aspek-aspek yang terkait seperti dampak negaitfnya pada kondisi alam.

Hamparan hutan beton yang terus meluas endominasi setiap sudut kota. Ruang-ruang hijau yang seharusnya menjadi benteng keseimbangan disulap menjadi pusat perbelanjaan atau perkantoran megah. Padahal alih fungsi kawasan tangkapan atau resapan air tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis akan berakibat fatal.

Tengoklah wilayah Jakarta sebelah Utara, bila semua daerah ini dirimbuni oleh tanaman Bakau yang berfungsi sebagai garda terdepan pertahanan dari terjangan ROB, maka pemandangan itu tak akan lagi bisa kita jumpai. Dinding-dinding terjal yang dingin dan angkuh dari perumahan mewah telah menggantikannya. Tak heran ketika terjadi air lau mengalami pasang, maka dengan segera sudut-sudut wilayah tersebut akan terendam air, belum lagi jika ditambah guyuran hujan yang cukup lebat.

Dari data yang dikemukakan oleh Dinas Pengembangan DKI Jakarta, pada periode tahun 1982 hingga 1997 telah terjadi ambles tanah di kawasan pusat jakarta mencapai 60 cm hingga 80 cm. Namun karena amblesan itu merata jadi seolah tidak terasa.

Selain habisnya persediaan air tanah, dengan semakin banyaknya gedung-gedung yang berdiri berarti semakin banyak pula air tanah yang tersedot dari perut bumi, makan semakin banyak rongga yang ditinggalkan. Karena sifat bumi yang tidak suka akan kekosongan maka ruang-ruang yang ditinggalkan oleh air tawar pun terisi oleh rembesan air laut.

Maka jadilah air lautyang bersemayam dibawah kaki kita dan menunggu saat naik kepermukaan. Untuk diketahui, air laut membuat tanah menjadi lunak. Dan tanah yang lunak bukanlah tumpuan yang sempurnya untuk bangunan-bangunan dengan beban berat seperti yang ada di Jakarta. Hasilnya, permukaan tanah pun akan terus mengalami penurunan, dan kota Jakarta akan semakin ambles karena tak kuat menahan beban diluar kemampuanya.

Kasus amblesnya sebagia ruas di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu yang sempat ramai diberitakan oleh media massa, adalah salah satu indikasi yang patut dicermati.

Sementara itu menurut DR Armi Susandi, MT, seorang ahli yang juga pengajar di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagaimana dilansir Leadership Park.com,  bahwa mungkin saja Jakarta akan tenggelam karena mengingat kondisi Jakarta yang berada lebih rendah bila dibandingkan dengan permukaan air laut.

“Tanpa aturan yang benar, wilayah Jakarta akan segera tenggelam,” katanya. Pernyataan itu semakin diperkuat oleh keterangan yang disampaikan oleh Tim dari kelompok keilmuan Geodasi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan kajian subsidensi permukaan tanah di 23 titik di sekitar Jakarta. Mereka menyimpulkan bahwa penurunan permukaan tanah bervariasi, 2 cm hingga lebih dari 12 cm selama 10 tahun sejak 1997 hingga 2007.

Disisi lain, pada sebuah kesempatan Guru Besar Oceanograf Institut Teknologi bandung (ITB), Prof. Safwan Hadi juga menjelaskan bahwa akibat ketidak tegasan pemerintah dalam membatasi pembangunan dan pengambilan air tanah ini diberbagai daerah Ibukota, utamanya yang dekat dengan laut, benar-benar terancam tenggelam.

Sudhamenjadi rahasia umum bahwa banjir yang kini rutin menyambangi Ibukota bukan mutlak akibat fenomena alam yang tak kunjung pasti. Namun lebih dikarenakan faktor manusianya.

Selain Jakarta, berikut  kota – kota besar di dunia yang juga terancam tenggelam, sebagai berikut :


Jakarta, Indonesia

Selain letak geografis yang berada di bawah permukaan air laut, kebutuhan akan air tanah yang tinggi ditengarai menjadi salah satu penyebab tenggelamnya daratan Jakarta. Populasi penduduk yang terus meningkat menjadi alasan utama kebutuhan akan air tanah. Dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, diperkirakan jumlah penduduk di Ibukota meningkat hingga 40 juta jiwa.

Pakar hidrologi asal Belanda, JanJaap Brinkman menjelaskan jika proses penyedotan air tanah  terus-menerus dilakukan, di penghujung abad ke-21, Jakarta akan tenggelam sedalam lima hingga enam meter. Tinggal menunggu waktu Jakarta akan tenggelam di bawah air laut sebagaimana kota Atlantis.

Kota-kota tersebut terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut dan pemanasan global. Jika kita tak mengubah cara kita memperlakukan bumi, kota-kota tersebut akan benar-benar tenggelam tanpa kita bisa berbuat apapun. Yuk, mulai peduli kepada lingkungan.


Shanghai, China

Shanghai dahulunya hanyalah sebuah tempat yang dikelilingi rawa. Kebutuhan akan tempat tinggal dan jumlah penduduk yang membengkak membuat bangunan pencakar langit makin banyak di daerah  tersebut. Tak heran, tiap tahunnya permukaan tanah di Shanghai turun setengah inchi. Berdasarkan data PBS, permukaan tanah di Shanghai turun sekitar 2,4 meter dalam rentang waktu tahun 1921 hingga 1965. Para ahli memperkirakan, tanah di Shanghai tak mampu lagi menahan beban berat bangunan di atasnya. Diprediksi suatu saat Shanghai akan tenggelam apabila Sungai Yangze meluap.


Ho Chi Minh City (Saigon), Vietnam

Salah satu kota terpadat di Asia Tenggara ini juga terancam tenggelam. Menurunnya permukaan tanah membuat daerah ini rawan banjir. Setiap tahunnya, ketinggian banjir meninggi setinggi 2cm.

Bangkok, Thailand

Kepala Pusat Peringatan Bencana Nasional Thailand, Smith Dharmasaroja, memprediksi pada tahun 2100 Bangkok akan menjadi Atlantis kedua. Kota ini akan tenggelam disebabkan beberapa faktor, seperti: perubahan iklim akibat efek rumah kaca, naiknya permukaan air laut, erosi pantai, serta pergeseran tanah. Ditambah lagi letak kota yang rendah menyebabkan Bangkok setiap tahunnya selalu mengalami banjir.

 Mumbai, India

Tak jauh berbeda dengan Bangkok, kelompok aktivis Greenpeace memperkitakan pada tahun 2100 kota Mumbai akan tenggelam oleh air laut. Naiknya air laut hingga 5 meter menyebabkan kota ini masyarakat di kota terancam kelangsungannya.

Meksiko City, Meksiko

Kota yang satu ini tiap tahunnya tenggelam sedalam 20cm bila terjadi banjir. Letaknya yang berada di lembah ditambah sistem drainase yang buruk membuat Meksiko City terancam tenggelam. Sejak tahun 1975, kapasitas drainase kota tersebut turun 30 persen. Namun kini pemerintah sedang mengusahakan pembuatan terowongan drainase raksasa yang diklaim dapat menampung air cukup banyak.

New York, Amerika Serikat

Naiknya permukaan air laut ternyata turut mengancam kota di Amerika Serikat ini.  Posisinya yang berada di mulut sungai Hudson yang terhubung langsung ke samudera Atlantik turut menjadi pemicunya. Science Daily memprediksi, air laut kota tersebut naik dua kali lipat dibanding lautan lainnya. Tak hanya itu, erosi pantai, penurunan lapisan tanah dan perusakan lingkungan juga bisa memicu luapan air di kota yang dikenal sebagai pusat bisnis dunia tersebut.

Venesia, Italia

Akhir tahun 2012, kota ini terendam banjir parah. Fenomena ini hadir karena gabungan dari hujan lebat dan angin dari selatan. Setidaknya 70 persen daratan di kota kanal ini terendam banjir dengan kedalaman hingga mencapai 1,5 meter di atas normal. Banjir itu rupanya salah satu indikasi bahwa kawasan Venesia terus tenggelam. Christian Science Monitor bahkan mencatat, kota itu turun permukaan tanahnya sepanjang 30 cm selama 100 tahun terakhir. Meningkatnya ketinggian air di Laut Mediterania menambah besar kemungkinan kota kanal itu tenggelam.


(Disarikan dari berbagai sumber, antara lain : Liputan 6 SCTV, Leadership-Park.com, dan berbagai sumber lain. Diolah demi kepentingan penyadaran kesiapsiagaan bencana, bukan menantang bencana).


(W. Suratman, saat ini bekerja di Pusdalops BPBD DKI Jakarta)

Senin, 29 September 2014

FOTO-FOTO KEGIATAN DI CITARIK,SUKABUMI

Rekan-rekan dari Menwa Jayakarta









Peserta workshop serius mengerjakan tugas









Tetap Semangat..

FOTO-FOTO KEGIATAN DI CITARIK,SUKABUMI

Ketua Forum PRB API DKI Jakarta sedang memberikan paparan dalam workshop perubahan iklim yang diadakan di Citarik-Sukabumi, Rabu, (24/09)


















Ibu Yuni dari Global Rescue Network (GRN) sedang memberikan paparan seputar penggunaan perahu karet pada arus liar.





Bang Ardie, dari DNPI, tidak mau kalah, ambil bagian memberikan arahan kepada para peserta work shop.

FOTO-FOTO KEGIATAN KERJASAMA FORUM PRB-API DKI JAKARTA & DNPI

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Bambang Musyawardana, saat membuka kegiatan
 yang diadakan atas dukungan dan kerjasama Forum Pengurangan Resiko Bencana dan Adapatasi Perubahan Iklim (PRB-API) DKI Jakarta dengan Dewan nasional Perubahan Iklim (DNPI), workshop dan pelatihan bagi anggota forum agar terbentuk landasan berpikir dan kekuatan untuk mengintegrasikan dalam penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan maupun mendorong perubahan perilaku warga, terkait isu-isu perubahan iklim, yang diadakan di Hotal Sari Pan Pasific, Selasa (22/09/2014).

Viktor Rembet, salah satu narasumber pada acara workshop tersebut sedang memaparkan berbagai hal terkait isu-isu perubahan iklim.










Arie Muhammad, dari DNPI sedang memberikan kata sambutan terkait kegiatan Forum PRB API DKI Jakarta dan DNPI.

Kerjasama Forum PRB-API DKI dan Dewan Nasional Perubahan Iklim dalam Peningkatan Kapasitas para Pemangku Kepentingan Forum

Jakarta, 25 September 2014 (Forum PRB-API DKI Jakarta) -- Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) merupakan upaya menyatukan keduanya sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan. Perbedaan muncul lebih dikarenakan isu atau disiplin keilmuan yang membidangi keduanya. PRB maupun API menempatkan manusia mampu mengurangi risiko yang diakibatkan oleh ancaman bencana maupun dampak buruk perubahan iklim.

Saat ini pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sedang merumuskan pendekatan dan strategi pengurangan risiko bencana yang diakibatkan oleh iklim (hidrometeorologis). Bersama Kementerian dan lembaga terkait khususnya yang membidangi isu adaptasi perubahan iklim, harmonisasi kebijakan, konsep dan metodologi menjadi prioritas kegiatan untuk mendukung implementasi di tingkat lapangan. Bekerja sama dengan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) dapat diperoleh pemahaman dan kemampuan dalam PRB dan API.

Workshop dan pelatihan ini diperlukan bagi anggota forum agar terbentuk landasan berpikir dan kekuatan untuk mengintegrasikan dalam penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan maupun mendorong perubahan perilaku warga. Dewan Nasional Peruahan Iklim (DNPI) sejak 5 tahun terakhir telah mewacanakan dan menggiatkan upaya-upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran isu adaptasi perubahan iklim (API) sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana (PRB).

Dasar pemikiran kegiatan ini adalah bahwa sinergisitas antara PRB dan API akan meningkatkan kesadaran dan pemahaman serta mendorong dialog, pertukaran informasi dan kerja sama dengan para ahli dan praktisi, institusi penanggung jawab, pembuat kebijakan, lembaga lainnya yang peduli terhadap kebencanaan, khususnya yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

DKI Jakarta memiliki risiko ancaman bencana banjir, kerentanan dan kapasitas dalam menghadapi ancaman yang ada. Sebagai tempat pertemuan 13 sungai dan curah hujan yang tinggi, kondisi ini memposisikan wilayah kerawanan yang tinggi terhadap banjir.  Tercatat sejak tahun 1621, 1654 dan 1918 pernah terjadi banjir besar di Jakarta.  Selanjutnya terjadi pada tahun 1976, 1996, 2002 dan satu yang menjadi tragedy nasional dan mendapat perhatian dunia yaitu banjir tahun 2007 dan 2013, karena wilayah genangannya lebih luas dari sebelumnya dan diperkirakan kerugiannya mencapai Rp. 7,8 trilyun.

Dampak perubahan iklim yang saat ini ada secara signifikan juga mempengaruhi tingkat risiko bencana.  Hasil kajian EEPSEA menyebutkan bahwa DKI Jakarta merupakan daerah yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Dari 530 kota di 7 negara (Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia dan Filipina), Indonesia merupakan Negara paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dengan narasumber Jonathan Victor Rembeth, Yon Sugiarto, Ferdhinand, Imron dan Ari Muhammad. Workshop yang diadakan 23 September 2014 di Hotel Sari Pan Pasifik akan dibuka oleh Basuki Tjahaya Purnama.

Hasil akhir yang diharapkan dari kegiatan workshop dan pelatihan  adalah; 1. Pemahaman mengenai kerentanan Provinsi DKI Jakarta, adaptasi perubahan iklim khususnya pengertian mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, esensi integrasi API dan PRB,  Climate Regime dalam pembangunan serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan serta peran serta media massa dalam rangka mengintegrasikan API-PRB.  2, Mengetahui bentuk dan cara penggunaan informasi kerentanan perubahan iklim kepada anggota Forum PRB-API Provinsi DKI Jakarta. 3. adanya rekomendasi rencana strategis Forum PRB-API DKI untuk integrasi API-PRB. 4, Terbangunnya tim building Forum PRB-API yang tanggap, tangkas dan tangguh.

Forum PRB-API DKI sendiri baru dikukuhkan pada tanggal 8 Mei 2014 ini, menjadi sinyal positif keberpihakan dan dukungan pemerintah terhadap persoalan pengurangan risiko bencana serta dampak dan ancaman perubahan iklim. Dengan 60 orang anggota yang merupakan gabungan dari lembaga pemerintah, NGO dan swasta. Sementara visinya adalah “Terwujudnya ketangguhan masyarakat DKI Jakarta dalam menghadapi risiko bencana dan dampak perubahan iklim”  Sebagai catatan penting, Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia memiliki permasalahan dan potensi bencana yang beragam.

Data BPBD DKI Jakarta ada 9 jenis ancaman bencana di Jakarta, diantaranya gempa bumi, banjir (luapan sungai dan pasang laut), kebakaran, wabah penyakit, puting beliung, konflik social antar kelompok, pencemaran lingkungan, cuaca ektrim dan kegagalan teknologi. Sementara  40% wilayah DKI Jakarta permukaan tanahnya dibawah permukaan air laut dan tingkat penurunan tanah 5-26cm/tahun. Selain itu, DKI Jakarta menjadi tempat pertemuan 13 sungai dengan curah hujan yang tinggi.(GR)


---------------------------
Catatan : (telah dimuat ) di :
www.antaranews.com
www.parahyangan-post.com
www.indoleader.com
www.pjminews.com


(ratman/prbapidki)